Entri Populer

Sabtu, 05 Februari 2011

Analisis 20 Ayat Tentang Kejadian Manusia

AYAT – AYAT ALQURAN TENTANG PENCIPTAAN MANUSIA
1.   Surat As-Sajdah ayat  7 - 9
alladzii ahsana kulla syay-in khalaqahu wabada-a khalqa al-insaani min thiinin
[32:7] Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.

Ayat ini menerangkan bahwa Tuhan yang menciptakan, mengatur dan mengurus langit dan bumi serta segala yang ada padanya itu, adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib, yang tersembunyi dalam hati, yang akan terjadi, yang telah terjadi, mengetahui segala yang dapat dilihat dan yang tidak dapat dilihat oleh mata. Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha kekal rahmat-Nya dan Dia pulalah Yang menciptakan seluruh makhluk dengan bentuk yang baik, serasi serta dengan faedah dan kegunaan yang hanya Dia saja yang mengetahuinya.
Jika diperhatikan seluruh makhluk yang ada di alam ini sejak dari yang besar sampai kepada yang sekecil-kecilnya akan timbul dugaan bahwa di antara makhluk itu ada yang besar faedahnya dan ada pula yang dirasa tidak berfaedah dan tidak berguna sama sekali, bahkan dapat menimbulkan bahaya kepada manusia, seperti ular berbisa, hama-hama penyakit menular, tanaman yang mengandung racun dan sebagainya. Dugaan ini akan timbul jika masing-masing makhluk itu dilihat secara terpisah,
 tidak    dalam satu kesatuan alam semesta ini.
Tetapi jika makhluk-makhluk itu dilihat dalam satu kesatuan alam semesta, yang antara satu dengan yang lain mempunyai hubungan erat, akan terlihat bahwa semua makhluk itu ada faedahnya dan kegunaannya dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian alam ini. Bahkan terlihat dengan nyata bahwa usaha-usaha sebagian manusia baik secara sengaja atau tidak yang merusak dan membunuh sebagian makhluk hidup, menimbulkan pencemaran alam ini, sehingga kelestariannya terganggu pula. Salah satu contoh ialah dengan adanya obat pembunuh hama, banyak cacing dan bakteri yang musnah. Akibatnya proses pembusukan sampah menjadi terganggu pula. Padahal bakteri dan cacing itu dianggap binatang yang tidak ada gunanya sama sekali. Penggundulan gunung dan penebangan hutan mengakibatkan tanah menjadi kurus, banyak terjadi banjir di musim hujan, dan tanah menjadi ke musim kemarau.
Berdasarkan hal yang di atas nyatalah bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah, ada faedahnya, tetapi banyak manusia yang tidak mau memperhatikannya.
Kemudian ayat ini menerangkan bahwa Dia menciptakan manusia dari tanah. Maksudnya ialah Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian menciptakan anak cucu Adam dari saripati tanah yang diperoleh oleh ayah dan ibu dari makanan berupa hewan dan tumbuh-tumbuhan yang semuanya berasal dari tanah.

tsumma ja'ala naslahu min sulaalatin min maa-in mahiinin
[32:8] Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.

Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT mengadakan keturunan manusia yang pertama itu beranak dengan adanya nutfah yang berasal dari pertemuan sel sperma laki-laki dengan sel telur perempuan.
   
tsumma sawwaahu wanafakha fiihi min ruuhihi waja'ala lakumu alssam'a waal-abshaara waal-af-idata qaliilan maa tasykuruuna
[32:9] Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah As Sajdah 9
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ (9)
Kemudian di dalam rahim wanita, Allah menyempurnakan kejadian nutfah itu, sehingga berbentuk
manusia. Kemudian ditiupkan roh ke dalamnya.
Dengan demikian bergeraklah bayi yang kecil itu. Setelah nyata kepadanya tanda-tanda hidup,
Allah menganugerahkan kepadanya pendengaran, penglihatan, akal, perasaan dan sebagainya.
Manusia pada permulaan hidupnya di dalam rahim ibunya, sekalipun telah dianugerahi mata, telinga,
otak, tetapi ia belum lagi dapat melihat, mendengar dan berpikir. Hal itu baru diperolehnya setelah ia
lahir, dan semakin lama pancainderanya itu dapat berfungsi dengan sempurna.
Hanya sedikit manusia yang mau mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya itu.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah As Sajdah 9
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ (9)
(Kemudian Dia menyempurnakannya) menyempurnakan penciptaan Adam (dan meniupkan ke dalam
tubuhnya sebagian dari roh-Nya) yakni Dia menjadikannya hidup dapat merasa atau mempunyai perasaan,
yang sebelumnya ia adalah benda mati (dan Dia menjadikan bagi kalian) yaitu anak cucunya (pendengaran)
lafal as-sam'a bermakna jamak sekalipun bentuknya mufrad (dan penglihatan serta hati) (tetapi kalian
sedikit sekali bersyukur) huruf maa adalah huruf zaidah yang berfungsi mengukuhkan makna lafal qaliilan,
yakni sedikit sekali.


2.   Surat Al-Mukminun ayat 4 - 8
waalladziina hum lilzzakaati faa'iluuna
[23:4] dan orang-orang yang menunaikan zakat,
   
waalladziina hum lifuruujihim haafizhuuna
[23:5] dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
illaa 'alaa azwaajihim aw maa malakat aymaanuhum fa-innahum ghayru maluumiina
[23:6] kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki ; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
   
famani ibtaghaa waraa-a dzaalika faulaa-ika humu al'aaduuna
[23:7] Barangsiapa mencari yang di balik itu  maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
waalladziina hum li-amaanaatihim wa'ahdihim raa'uuna
[23:8] Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
3.   Surat Al Haj ayat 5-6
yaa ayyuhaa alnnaasu in kuntum fii raybin mina alba'tsi fa-innaa khalaqnaakum min turaabin tsumma min nuthfatin tsumma min 'alaqatin tsumma min mudhghatin mukhallaqatin waghayri mukhallaqatin linubayyina lakum wanuqirru fii al-arhaami maa nasyaau ilaa ajalin musamman tsumma nukhrijukum thiflan tsumma litablughuu asyuddakum waminkum man yutawaffaa waminkum man yuraddu ilaa ardzali al'umuri likaylaa ya'lama min ba'di 'ilmin syay-an wataraa al-ardha haamidatan fa-idzaa anzalnaa 'alayhaa almaa-a ihtazzat warabat wa-anbatat min kulli zawjin bahiijin
[22:5] Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

dzaalika bi-anna allaaha huwa alhaqqu wa-annahu yuhyii almawtaa wa-annahu 'alaa kulli syay-in qadiirun
[22:6] Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq  dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,


4.   Surat Al Furqon ayat 54

wahuwa alladzii khalaqa mina almaa-i basyaran faja'alahu nasaban washihran wakaana rabbuka qadiiraan
[25:54] Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.



Surat Al Furqon ayat 54 :
Tentang tafsir ayat ini, Ibnu Abbas berkata, "Allah menciptakan air mani berwarna putih, lalu meletakkannya di sulbi Adam. Setelah itu, ia dipindahkan ke sulbi Syaits, lalu ke sulbi Anusy, sulbi Qainan, dan terus berpindah dari sulbi orang-orang mulia ke rahim wanita-wanita suci sampai Allah menjadikan(nya) berada di sulbi Abdul Mutalib. Dia lalu membaginya menjadi dua, sebagian diletakkan di sulbi Abdullah dan yang lain di sulbi Abu Thalib. dari mereka, lahirlah Muhammad saw dan Ali. Makna 'mushaharah' adalah Fathimah binti Muhammad dan Muhammad adalah bagian dari Ali, hasan, dan Husin."

Jabir bin Ja'fi meriwayatkan dari Ikrimah, dari ibnu Abbas tentang penafsiran ayat ini,
" Allah menciptakan Adam dan menciptakan mani, lalu Dia menitipkannya di sulbi orang-orang suci, hingga Ibrahim, kemudian sampai ke sulbi Abdul Muthalib. Allah lalu memecah cahaya itu menjadi dua, salah satunya diletakkan untuk Abdullah yang kemudian melahirkan Muhammad, dan yang lain untuk Abu Thalib, yang kemudian melahirkan Ali. Setelah itu, Allah mendekatkan keduanya dengan hubungan pernikahan, iaitu dengan cara menikahkan Fathimah dengan Ali."

5.   Surat Al ‘Alaq ayat 2

khalaqa al-insaana min 'alaqin
[96:2] Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah

Dalam ayat ini Allah mengungkapkan cara bagaimana ia menjadikan manusia, yaitu manusia sebagai makhluk yang mulia dijadikan Allah dari sesuatu yang melekat dan diberinya kesanggupan untuk menguasai segala sesuatu yang ada di bumi ini serta menundukkannya untuk keperluan hidupnya dengan ilmu yang diberikan Allah kepadanya. Dan Dia berkuasa pula menjadikan insan kamil di antara manusia, seperti Nabi SAW. yang pandai membaca walaupun tanpa belajar.


6.   Surat Al Insan ayat 2

innaa khalaqnaa al-insaana min nuthfatin amsyaajin nabtaliihi faja'alnaahu samii'an bashiiraan
[76:2] Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur  yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat

Surat Al-Insan ayat 2 :
Selain itu, ayat lain yang tak kalah pentingnya adalah surat Al-insan ayat 2. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur ang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat”.
Ayat-ayat di atas kemudian disokong dan diperkuat oleh hadis nabi,  “dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya)." (HR. Bukhari-Muslim).
Fitrah Ketuhanan
Argumen teoritis dan konseptual seputar awal atau asal mula manusia terletak pada integrasi antara ruh dan materi. Dua konsep kunci itu sejatinya satu paket dan satu kesatuan, yakni ruh dan tanah. Ruh dimaksud adalah ruh Allah. Dengan demikian pada dasarnya manusia memiliki potensi fitrah yang berasal dari Allah. Sedangkan tanah disini memiliki arti simbolik. Artinya, penciptaannya tidak seperti membuat patung yang terbuat dari tanah.
Tanah adalah faktor penting tumbuh kembangnya manusia. Dari tanah, berbagai macam protein atau sari makanan dikonsumsi manusia. Melalui proses metabolisme dalam tubuh, sari-sari makanan itu kemudian menghasilkan hormon, hubungan seksual, kemudian terjadi perjumpaan antara sperma dan ovum. Perjumpaan inilah yang menghasilkan wujud atau bentuk manusia paling sempurna.

7.    Surat At Tin ayat 4

laqad khalaqnaa al-insaana fii ahsani taqwiimin
[95:4] sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya

Surat Attiin ayat 4 :
Ayat inilah permulaan dari apa yang telah Allah mulaikan lebih dahulu dengan sumpah. Yaitu, bahwasanya di antara makhluk Allah di atas permukaan bumi ini, manusialah yang diciptakan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk; bentuk lahir dan bentuk batin. Bentuk tubuh dan bentuk nyawa. Bentuk tubuhnya melebihi keindahan bentuk tubuh hewan yang lain. Tentang ukuran dirinya, tentang manis air-mukanya, sehingga dinamai basyar, artinya wajah yang mengandung gembira, sangat berbeda dengan binatang yang lain. Dan manusia diberi pula akal, bukan semata-mata nafasnya yang turun naik. Maka dengan perseimbangan sebaik-baik tubuh dan pedoman pada akalnya itu dapatlah dia hidup di permukaan bumi ini menjadi pengatur. Kemudian itu Tuhan pun mengutus pula Rasul-rasul membawakan petunjuk bagaimana caranya menjalani hidup ini supaya selamat.

8.   Surat AL Isra ayat 70

walaqad karramnaa banii aadama wahamalnaahum fii albarri waalbahri warazaqnaahum mina alththhayyibaati wafadhdhalnaahum 'alaa katsiirin mimman khalaqnaa tafdhiilaan
[17:70] Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan,  Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.



9.   Surat An Nahl ayat 78

waallaahu akhrajakum min buthuuni ummahaatikum laa ta'lamuuna syay-an waja'ala lakumu alssam'a waal-abshaara waal-af-idata la'allakum tasykuruuna
[16:78] Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan kegaiban dan keajaiban yang amat dekat pada manusia. Manusia mengetahui fase-fase pertumbuhan janin, tetapi mereka tidak mengetahui bagaimana jalannya proses perkembangan janin yang terjadi dalam rahim itu sehingga mencapai kesempurnaan. Yakni sejak dari dua sel organism (sel hidup) yang lebur menjadi manusia baru yang membawa sifat-sifat kedua orang tuanya dan leluhurnya. Dalam proses kejadian ini terdapat rahasia hidup tersembunyi. Sesudah mencapai kesempurnaan, Allah mengeluarkan manusia itu dari rahim ibu, pada waktu itu dia tidak mengetahui apa-apa. Tetapi sewaktu masih dalam rahim, Allah SWT menganugerahkan kesediaan-kesediaan (bakat) dan kemampuan pada diri manusia, seperti bakat berpikir, berbahagia, mengindra dan lain sebagainya. Setelah manusia itu lahir, dengan hidayah Allah segala bakat-bakat itu berkembang. Akalnya dapat memikirkan tentang kebaikan, kejahatan, kebenaran dan kesalahan, hak dan batal. Dan dengan bakat pendengaran dan penglihatan yang telah berkembang itu manusia mengenali dunia sekitarnya dan mempertahankan hidupnya serta mengadakan hubungan sesama manusia. Dan dengan perantaraan akal dan indra itu pengalaman dari pengetahuan manusia dari hari ke hari semakin bertambah dan berkembang. Kesemuanya itu merupakan rahmat dan anugerah Tuhan kepada manusia yang tidak terhingga. Karena itu seharusnyalah mereka bersyukur kepada Nya:
Pertama: dengan pengakuan iman kepada keesaan-Nya, tidak menyekutukan kepada selain Nya.
Kedua: Mempergunakan segala nikmat Tuhan itu untuk beribadah dan patuh kepada Nya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nahl 78
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (78)
(Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun) jumlah kalimat laa ta'lamuuna syaian berkedudukan menjadi hal atau kalimat keterangan (dan Dia memberi kalian pendengaran) lafal as-sam'u bermakna jamak sekali pun lafalnya mufrad (penglihatan dan hati) kalbu (agar kalian bersyukur) kepada-Nya atas hal-hal tersebut, oleh karenanya kalian beriman kepada-Nya.


10.                 Surat Al Baqoroh ayat 30


wa-idz qaala rabbuka lilmalaa-ikati innii jaa'ilun fii al-ardhi khaliifatan qaaluu ataj'alu fiihaa man yufsidu fiihaa wayasfiku alddimaa-a wanahnu nusabbihu bihamdika wanuqaddisu laka qaala innii a'lamu maa laa ta'lamuuna
[2:30] Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Surat Al Baqoroh ayat 30 :
Di dalam ayat-ayat sebelumnya Allah berbicara tentang nikmat-nikmat materi-‎Nya yang tak terhitung jumlahnya bagi para penghuni bumi. Sedangkan ayat ‎ini menjelaskan posisi dan kedudukan maknawi manusia, yang membuatnya ‎pantas menerima segala nikmat itu. Setelah menciptakan manusia, Allah swt ‎menyodorkan permasalahan ini kepada para Malaikat, yaitu bahwa Adam ‎memiliki kelayakan dan kepantasan sedemikian besar, sehingga Allah telah ‎menetapkannya sebagai wakil-Nya di bumi, dan mencapai pangkat ‎khalifatullah. ‎‎
Akan tetapi para Malaikat menyatakan kekhawatiran mereka dan mengatakan ‎bahwa bagaimana mungkin seseorang yang keturunannya bakal membuat ‎kerusakan dan pertumpahan darah diangkat sebagai khalifatullah di bumi?‎
Para Malaikat berpikir bahwa jika Allah ingin mengangkat wakil di bumi , maka ‎wakil tersebut haruslah jauh dari segala macam dosa dan kejahatan, serta ‎sepenuhnya mentaati Allah. Dan dengan pengetahuan yang mereka miliki ‎tentang alam dan watak-watak manusia, maka mereka merasa heran, apa ‎sebabnya Allah swt bukannya memberikan kedudukan mulia seperti itu ‎kepada para Malaikat-Nya yang selalu berada dalam ibadah dan ketaatan ‎kepada-Nya, tetapi memberikannya kepada manusia. ‎
Dalam menjawab pertanyaan para Malaikat, Allah swt menyebutkan, kalian ‎hanya melihat titik kelemahan manusia. Sedangkan kalian tidak mengetahui ‎segi-segi positifnya yang sangat berharga. Akan tetapi Aku mengetahui ‎sesuatu yang kalian tidak mengetahuinya. Jika kalian menganggap bahwa ‎tasbih dan tahmid yang selalu kalian lakukan itu sebagai alasan kelebihan ‎kalian terhadap manusia dalam mencapai kedudukan sebagai khalifatullah, ‎maka ketahuilah bahwa diantara umat manusia terdapat banyak orang yang ‎lebih unggul dari pada kalian dan memiliki kelayakan untuk menduduki ‎pangkat mulia ini. ‎
Tentu saja perlu ditegaskan bahwa bukan semua manusia merupakan ‎khalifatullah di muka bumi, dan yang dimaksudkan dengan khalifah Allah di ‎bumi ialah bahwa Allah yang telah menciptakan manusia "fi ahsanit taqwim" ‎dengan sebaik-baik penciptaan, dan telah meniupkan ruh-Nya ke dalam tubuh ‎manusia , maka hendaklah manusia memelihara sebaik-baiknya semua ‎potensi yang telah Allah berikan itu, sehingga mampu berperan sebagai ‎khalifah Allah di bumi.‎
Contoh dari orang-orang yang demikian itu, yang telah terpilih sebagai ‎khalifatullah di bumi, ialah para Nabi, para Imam, mukminin dan solihin serta ‎para syuhada. Ketika manusia tidak mampu memelihara potensi-potensi Ilahi ‎itu dan merusaknya, jadilah mereka sama seperti hewan bahkan keadaan ‎mereka lebih buruk lagi, sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Quran: "Ulaa ‎ika kal an'am bal hum adhal" "Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan ‎lebih sesat lagi". Jelas sekali bahwa ditunjuknya manusia sebagai wakil untuk ‎mengelola bumi, sama sekali tidak menunjukkan kelemahan Allah dalam ‎mengatur bumi. Tetapi menunjukkan kemuliaan dan keutamaan kedudukan ‎manusia yang memperoleh kelayakan untuk menduduki jabatan khalifatullah; ‎selain bahwa sistem penciptaan dan pengaturan alam ini berjalan di atas ‎dasar kausalitas.‎
Artinya, meskipun Allah swt mampu secara langsung mengatur dan ‎mengelola alam jagat raya ini, namun untuk menjalankan segala urusan Allah ‎menciptakan perantara-perantara dan sebab-sebab; sebagaimana berkenaan ‎dengan para Malaikat Allah berfirman yang artinya, "Dan demi para Malaikat ‎yang mengatur urusan alam." Artinya, Allah swt juga menyerahkan sebagian ‎urusan alam ini kepada para Malaikat. Meskipun pengatur yang sebenarnya ‎segala urusan alam ini ialah Allah sendiri sebagaimana yang Dia firmankan: ‎‎"Yudab birul Amr", Dia-lah yang mengatur segenap urusan. ‎

Dari ayat tadi terdapat delapan poin pelajaran yang dapat dipetik:‎
‎1. Posisi dan kedudukan manusia di alam ini sangat tinggi, sebagaimana yang ‎Allah paparkan masalah tersebut di hadapan para Malaikat-Nya.‎
‎2. Pengangkatan wakil dan pemimpin Ilahi, ada di tangan Allah. ‎
‎3. Penjelasan topik-topik penting yang menimbulkan pertanyaan, dan ‎pemberian jawaban bagi soal-soal serta hal-hal yang belum jelas, adalah ‎perbuatan yang sangat berharga, sebagaimana yang Allah perbuat berkenaan ‎dengan penciptaan manusia, sehingga hilanglah ketidakjelasan dan keraguan ‎para Malaikat.‎
‎4. Pemimpin dan khalifah Allah haruslah seorang yang adil bijaksana, bukan ‎orang yang fasik dan pembuat kerusakan. Oleh karena itu para Malaikat ‎bertanya, bagaimana mungkin manusia yang suka menumpahkan darah ‎berperan sebagai wakil Allah di bumi?‎
‎5. Dalam membandingkan diri kita dengan orang lain, hendaknya kita tidak ‎melihat hanya segi-segi negatif dan titik-titik kelemahan orang lain, dan ‎melihat diri kita sendiri hanya dari segi-segi positif, lalu kita tergesa-gesa ‎mengambil kesimpulan.‎
‎6. Ukuran kemuliaan dan keutamaan bukan hanya ibadah. Akan tetapi ‎diperlukan hal-hal lain. Meskipun para Malaikat memiliki kelebihan dibanding ‎dengan manusia dalam hal ibadah kepada Allah, namun mereka tidak dipilih ‎oleh Allah untuk menjadi khalifah-Nya di bumi.‎
‎7. Penyimpangan dan kesesatan sejumlah manusia, tidak menghalangi ‎perkembangan dan kesempurnaan manusia-manusia yang lain. Meskipun ‎Allah mengetahui bahwa sekelompok manusia akan memilih jalan kesesatan, ‎namun Allah tidak mencegah penciptaan dan pengangkatan manusia sebagai ‎khalifah-Nya.‎
‎8. Mengajukan pertanyaan dengan tujuan menambah pengetahuan dan ‎menyingkirkan ketidakjelasan, sama sekali tidak terlarang, bahkan merupakan ‎kebaikan. Pertanyaan para Malaikat bukan untuk memprotes perbuatan dan ‎rencana Allah, tetapi untuk menghapus ketidakjelasan yang ada pada ‎mereka.‎

11.                Surat Al An’am ayat 165
wahuwa alladzii ja'alakum khalaa-ifa al-ardhi warafa'a ba'dhakum fawqa ba'dhin darajaatin liyabluwakum fii maa aataakum inna rabbaka sarii'u al'iqaabi wa-innahu laghafuurun rahiimun
[6:165] Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Surat Al An’aam ayat  165 :
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 165
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (165)
Apabila kita kembali menelaah surat Alquran itu secara keseluruhan, maka sekurang-kurangnya kita akan dapat merasakan suatu kesimpulan bahwa hidup dan kehidupan ini telah disoroti dengan sinar cahaya petunjuk dari segenap penjuru. Karena di dalamnya diterangkan soal-soal aqaid serta dalil-dalilnya, soal rasul dan wahyu serta bantahannya terhadap orang-orang kafir yang membangkang, soal kebangkitan hari akhirat dan al-jaza' (balasan amal), tentang ajaran yang penting-penting tentang hubungan manusia dengan Khaliknya, hubungan manusia sesama manusia terutama berbuat baik kepada dua ibu bapak, soal pertentangan dalam agama, soal amal perbuatan dan lain-lainnya. Apabila kita memperhatikan pula kenyataan sejarah sepanjang masa, manusia tetap manusia, di permusuhan walaupun sesama saudara dan sesama manusia tetap terjadi, maka sedikit banyaknya akan dapat kita rasakan pula hubungan dan hikmahnya surat Al-An'am' ini diakhiri dengan sebagai berikut: "Sesungguhnya Tuhanmu yang menciptakan segala sesuatu, Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi ini dan dia meninggikan derajat sebagian kamu dari yang lainnya, baik kedudukan dan harta maupun kepintaran dan lain-lainnya, karena Dia hendak mengujimu tentang apa yang telah diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang yang benar-benar minta ampun kepada-Nya lagi Maha Penyayang bagi hamba-Nya yang mukmin".
Memang kelebihan yang terdapat pada seseorang atau pada suatu kelompok atau pada suatu bangsa dan sebagainya, dan kekurangan atau kelemahan di pihak lainnya dalam sumber dari segala macam perselisihan dan permusuhan dalam hidup dan kehidupan manusia semenjak dahulu kala sampai akhir zaman, baik bagi orang-orang yang masih primitip maupun bagi orang-orang yang sudah maju.
Pada ayat ini Allah menegaskan, bahwa Dialah yang menjadikan manusia penguasa-penguasa di bumi ini untuk mengatur dan Dia pulalah yang meninggikan derajat sebagian dari mereka dari sebagian lainnya, semua itu adalah menurut sunah Allah untuk menguji mereka masing-masing apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Mereka akan mendapat balasan dari ujian itu, baik di dunia maupun di akhirat. Penguasa-penguasa diuji keadilan dan kejujurannya, si kaya diuji bagaimana dia membelanjakan hartanya, si miskin dan si penderita diuji kesabarannya. Oleh karena itu, manusia tidak boleh iri hati dan dengki terhadap pemberian Tuhan kepada seseorang, karena semua itu dari Allah dan semua pemberian-Nya adalah ujian bagi setiap orang, dan secara logikanya setiap orang yang menempuh ujian tentu ingin lulus dan berusaha untuk lulus.
12.                Surat Yunus ayat 14
tsumma ja'alnaakum khalaa-ifa fii al-ardhi min ba'dihim linanzhura kayfa ta'maluuna
[10:14] Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.

13.                Surat Adz Dzariat ayat 56
wamaa khalaqtu aljinna waal-insa illaa liya'buduuni
[51:56] Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar