Entri Populer

Jumat, 04 Februari 2011

Analisis Surat Ali 'Imran Ayat 104 dan 110

TUGAS
FILSAFAT KEMUHAMMADIYAHAN
MENYALIN DAN ANALISIS SURAT ALI ‘IMRAN AYAT 104 DAN 110


ALI 'IMRAN (KELUARGA 'IMRAN)



Ayat : 104
waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa alkhayri waya/muruuna bialma'ruufi wayanhawna 'ani almunkari waulaa-ika humu almuflihuuna
[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar137; merekalah orang-orang yang beruntung.

 137) Makruf ialah segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada ALLAH, sedangkan mungkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan diri dari ALLAH.


Mutiara ayat :
Tuntutan untuk berpegang teguh pada agama ALLAH dan memelihara persatuan.
1.    Allah memperingatkan orang beriman agar jangan terpengaruh oleh bujukan dan tipu daya orang kafir, karena mereka selalu ingin menarik kaum mukmin kepada agama mereka, dan hendaklah kaum muslimin berpegang teguh kepada petunjuk dan ajaran Al-Qur’an, serta bertaqwa kepada ALLAH dan memelihara keimanan dan keislamannya.
2.    ALLAH menganjurkan agar kaum muslimin bersatu dalam melaksanakan ajaran agama dan menjauhi segala yang menimbulkan perpecahan dan permusuhan, karena persatuan itu adalah salah satu nikmat ALLAH yang benar yang harus disyukuri dan dipelihara sebaik-baiknya.
3.    Untuk mencapai kekuatan umat Islam dalam perjuangan menegakkan agamanya hendaklah memperkuat barisan dakwah yang akan member petunjuk kepada jalan yang lurus, menganjurkan berbuat kebaikan, dan mencegah dari kemungkaran untuk mengantarkan umat kegerbang kebahagiaan.

Hadis yang berkaitan dengan Ayat :
Dari Abu Bakar Nabi saw. Bersabda:“ Tidaklah ada kaum yang didalamnya terdapat kemaksiatan, sedangkan mereka mampu mencegahnya namun tidak dikerjakan, melainkan Allah akan menimpakan azab kepada mereka”. (HR.Abu Daud)
Munasabah :
Tuntunan untuk berpegang teguh pada agama Allah dan memelihara persatuan .
Pada ayat-ayat sebelumnya diterangkan usaha ahli kitab untuk menjelek-jelekkan agama Islam dengan maksud menjauhkan kaum muslimin dari Nabi Muhammad saw dan untuk mengaburkan orang beriman agar mereka tidak tertarik kepada agama Islam.  Pada ayat-ayat ini Allah memerintahkan agar dibina kekuatan kaum muslimin dengan memupuk persatuan hingga tidak mudah dipecah belah, dan dengan mengatur hubungan mereka satu sama lain berdasarkan tolong menolong dan nasehat menasehati untuk memperkuat perjuangan.

Kesimpulan:
 Agar kita berbahagia di dunia dan akhirat hendaklah selalu berpegang teguh pada tali Allah,berbuat baik dan tinggalkan kemungkaran serta memupuk tali persaudaraan Islam.






ALI 'IMRAN (KELUARGA 'IMRAN)

Ayat 110 :
kuntum khayra ummatin ukhrijat lilnnaasi ta/muruuna bialma'ruufi watanhawna 'ani almunkari watu/minuuna biallaahi walaw aamana ahlu alkitaabi lakaana khayran lahum minhumu almu/minuuna wa-aktsaruhumu alfaasiquuna
[3:110] Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.



Mutiara Ayat :

Keutamaan umat Islam

1.    Umat Islam adalah umat terbaik, selama mereka melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar dan tetap beriman kepada Allah dan RasulNya,Muhammad saw.
2.    Ahli kitab (yahudi) terdiri dari 2 golongan. Pertama golongan yang beriman yang jumlahnya sedikit, dan kedua golongan orang fasik yang tetap dalam kekafirannya, dan jumlahnya lebih banyak.  Mereka tidak akan membahayakan umat Islam, selama umat Islam berpegang teguh dengan keimanan dan persatuan.
3.    Kehinaan selalu menimpa kaum yahudi karena sifat-sifatnya yang buruk, diantaranya mereka tetap dalam kekafiran, membunuh nabi-nabi selalu durhaka dan mengobarkan permusuhan.  Mereka akan tetap demikian kecuali bila mereka membayar jizyah ( habl min Allah) dan memperoleh keamanan dari kaum muslimin ( habl min al-nas )


Munasabah :

Keutamaan Umat Islam

Pada ayat-ayat yang lalu diterangkan bahwa pada hari kiamat nanti ada dua golongan yang amat berlainan nasibnya yaitu dengan muka putih berseri-seri dan yang bermuka hitam muram, yang pertama adalah wajah kaum  mukminin, sedang yang kedua wajah kaum kafirin dan munafikin. Dalam ayat ini disebutkan bahwa orang-orang yang beriman adalah sebaik-baik umat didunia, karena mereka selalu berpegang teguh pada agama Allah menjunjung tinggi kebenaran, mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran dan senantiasa beriman kepada Allah.




Hadis yang berkaitan dengan Ayat :

Diriwayatkan oleh tarmizi bahwa Rasulullah bersabda mengenai ayat ini, “Kalian menjadi penyempurna tujuh puluh umat, kalian yang terbaik dan termulia disisi Allah”. Dan, dia menjelaskan bahwa: hadis ini hasan.

Diriwayatkan oleh hakim yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda, “Panji-panji Islam adalah kewajibanmu menyembah Allah yang yang tidak kau sekutukannya dengan sesuatu, kau dirikan shalat, tunaikan zakat, puasa ramadhan, dan menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran, serta menjaga keluargamu.  Barang siapa yang menguranginya sedikit, maka dia telah meninggalkan sebagian panji-panji Islam dan barang siapa yang meninggalkan semuanya, maka dia telah berpaling secara terang-terangan.


Kesimpulan :

Islam adalah Agama Rahmatan lil alamin, bersyukurlah kita sebagai seorang muslim, Allah kembali menjelaskan agar kita tetap menjaga keimanan.karena kebanyakan dari kita imannya mengalami fruktuasi bahkan munafik dan kafir.






Penjabaran Dalam Kehidupan :
Muhammadiyah, organisasi Islam yang cukup besar di tanah air ini semakin matang dan akan segera
memasuki usia satu abad. Di awal pendiriannyai Muhammadiyah bertujuan mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah yang sering menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengani kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan adaptasi..
Muhammadiyah memang banyak mere-i fleksikan diri kepada perintah-perintah Alquran, di antaranya surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Ayat tersebut, menurut para tokoh Muhammadiyah, men-
Oleh Edy Supriatna Sjafeigandung isyarat untuk bergeraknya umat dalam menjalankan dakwah Islam secara teorganisasi, umat yang bergerak, yang juga mengandung penegasan tentang hidup berorganisasi.
Maka dalam butir ke-6 Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah dinyatakan, melancarkan amal-usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi, yang mengandung makna pentingnya organisasi sebagai alat gerakan yang niscaya.
Dalam prosesnya, gerakan Muhammadiyah semakin berciri semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat menjadi lebih maju dan terdidik dengan semakin banyaknya jumlah lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah. Bahkan dari organisasi ini, kini telah banyak juga berdiri rumah sakit, masjid, dan panti asuhan, di seluruh Indonesia.
Lantas, apakah para pemimpin Muhammadiyah kini merasa puas dengan hasil nyata tersebut. Tentu, mereka akanmenjawab, tidak. Setidaknya, jawaban itu tercermin dari pernyataan salah satu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dr. Soedibyo Markus, dalam acara Panen Jamur dan Sayuran yang diselenggarakan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah pada Sabtu (12/06/2010) di Pondok Pesantren dan Panti Asuhan Darul Hikmah, Borobudur, Magelang. Ia mengatakan pada abad ke dua nanti ada dua agenda utama Muhammadiyah. Kedua agenda tersebut nampaknya saling berlawanan tetapi sesungguhnya dapat sejalan.
Pertama adalah membangun basis atau "back to basic" dan kedua adalah menjadi agen kosmopolitan. Soedibyo Markus menjelaskan, yang dimaksud membangun basis atau kembali ke basis adalah peneguhan ideologi Muhammadiyah seperti Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muahammadiyah, Khittah, dan lain-lain yang semuanya bersumber dari Al Quran dan As Sun-nah. Sedangkan menjadi agen kosmopolitan berarti mau bekerja sama dengan siapapun dan membantu siapapun, lintas organisasi, agama, dan negara. "Jadi, nanti Muhammadiyah bukan hanya untuk Muhammadiyah, tetapi untuk seluruh dunia," katanya.
Hal itu berarti pula, ke depan Muhammadiyah tak melulu harus berkutat dengan urusan internal. Tetapi menyikapi perkembangan zaman, ujar Soedibyo. Bagi Muhammadiyah, tantangan ke depan memang harus dijawab seperti tatkala organisasi ini berdiri menghadapi tantangan dari sekitarnya yang demikian dahsyat. Berdasarkan situs resmi Muhammadiyah, Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912.
Dalam prespektif sejarah, persyarikatan ini didirikan untuk mendukung usaha KH Ahmad Dahlan untuk memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi hal-hal mistik. Kegiatan ini pada awalnya juga memiliki basis dakwah untuk wanita dan kaum muda berupa pengajian Sidratul Muntaha.

















DAFTAR PUSTAKA


1.    al-Qurthubi, Ibnu Abi Abdullah Muhammad Abu, "al-Ahkam Al-Jami 'al-Qur'an", Lebanon Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2006 M / 1427 H, Juz 5

2.    as-Sa'di, Abdurahman An-Nashir, "Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan", Lebanon Beirut: Mahfudzah Jami 'al-Huquq, 2002 M / 1423 H

3.    Ath Thabari, "Al-Bayan Jami 'Fi Tafsir Al-Qur'an", Kairo: Maktabah Hajr, 2001M/1422H, Bab. 103 Juz 7

4.    Ibnu Taimiyah, Syaikhul Islam, "Majmu Fatawa", tt. 1418H / 1997M,. Jilid 28

5.     "Majmu'atul Fatawa", terjemah Ahmad Syaikhu, "Kumpulan Fatwa-Fatwa Ibnu Taimiyah" Jakarta: Darul Haq, 2007 M, Cet. II

6.    Ibnu Katsir, "al-'Adzim Tafsir al-Qur'an", Tt, Maktabah al-'Asriyah, saya Jilid, 3200m/1420H,

7.    Munawwir, Ahmad Warson, "Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia terlengkap", Surabaya: Progresif, 1997, Cet.XIV, Edisi II, Hal. 406

8.    Umar, Husain, KESAWAN "Dakwah; Mencermati Peluang dan Problematikanya," Oleh Ulil Amri Syafri, dkk, Jakarta: Mohammad Stid Natisr Press, Cet.. I.

9.    http://al-atsariyyah.com/?p=142, Tanggal 28 maret 2010


10.  Ahmad Warson Munawwir, "Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia terlengkap", Surabaya: Progresif, 1997, Cet.Xiv, Edisi II, Hal. 406

11.  [2] Hussen Umar, KESAWAN "Dakwah; Dan Peluang Mencermati Problematikanya", DKK Ulil Amri Syafri, Dibuat, Jakarta: Tekan Natisr Stid Mohammad, Cet.. I, Hal. 3

12.   Ibnu Taimiyah Syaikhul, "Majmu Fatawa", Tt. 1418h / 1997m,. Jilid 28 Hal 168

13.  Http: / / Al-Atsariyyah.Com / P = 142, Tanggal 28 Maret 2010?

14.  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Loc Cit.

15.  Http: / / Al-Atsariyyah.Com / P = 142, Tanggal 28 Maret 2010?

16.  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu'atul Fatawa ", Ahmad Syaikhu Terjemah," Kumpulan Fatwa-Fatwa Ibnu Taimiyah "Jakarta: Darul Haq, 2007 M, Cet. Ii, Hal. 83

17.  Ibnu Katsir, "Tafsir Al-'Adzim Al-Qur'an", Tt, Maktabah Al-'Asriyah, saya Jilid, 3200m/1420h, Hal. 342

18.  Abdurahman An-Nashir As-Sa'di, "Taisir Al-Karim Ar-Rahman Fi Tafsir Kalam Al-Mannan", Lebanon Beirut: Mahfudzah Jami 'Al-Huquq, 2002 M / 1423 H, Hal. 142

19.  Ath Thabari, "Al-Bayan Jami 'Fi Tafsir Al-Qur'an", Kairo: Maktabah Hajr, 2001m/1422h, Bab. 103 Juz 7, Hal. 89

20. Tafsir Ibnu Katsir, Loc Cit.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar